Buku bersampul coklat
Sore itu mendung. Langit tampak hitam pekat. Namun hujan tidak juga turun. Awan – awan hitam itu terus meluas menutupi sinar matahari yang sebentar lagi akan masuk ke peraduannya. Semilir angin dingin masuk ke celah – celah jendela kamar ku. Daun – daun kering beterbangan tidak berdaya karena terkalahkan oleh kekuatan angin. Entah sampai kapan cuaca akan tidak menentu seperti ini. Aku buru – buru menutup jendela kamar ku. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Aku letih sekali, setelah seharian penuh beraktifitas di kampus. Mata kuliah hari ini cukup melelahkan. Karena seharian penuh diisi dengan diskusi – diskusi yang lama kelamaan membuat ku jenuh, dan sepertinya aku harus me refresh otakku sekaligus fikiranku.
“huh......” aku membuang nafas lelahku.
Aku membuka tas kuliahku, mengeluarkan buku – buku dan segala macamnya, hari ini memang sangat berat. Aku harus presentasi tiga mata kuliah, semua makalah aku yang mengerjakan, dan parahnya lagi aku juga yang harus menjawab pertanyaan – pertanyaan yang diajukan teman – temanku di kelas. Aku tidak tau, apakah aku yang sok bisa atau memang temen – temen satu kelompokku yang terlalu cuek.
“jangan mengeluh... jangan mengeluh” aku bicara sendiri.
“wei... hati – hati loh... jangan ngomong sendiri ah...soalnya neh gara – gara krisis global, bunuh diri meningkat drastis karena banyak orang yang stress. Aku takut ntar mu ketularan lagi, hehehe..” aku dikejutkan oleh teman satu kamar ku, fini.
“uenak aja.... gini – gini aku masih sehat kale... eh.. fin, mana yang lain, kok sepi sih....?”
“anak – anak udah pada pergi jalan tuh... liat film baru.”
“oh........” jawabku pendek.
Sudah hampir tiga tahun aku dan temen – temen ku tinggal di rumah ini. Dari mulai tahun pertama kuliah sampai sekarang kami tidak pernah pindah kos. Aku tidak tau kenapa, aku hannya merasa rumah ini seperti rumah ku sendiri. Di rumah ini kami saling berbagi, mengisi, dan saling melengkapi.
...........................................
Pagi – pagi aku pergi kekampus. Pagi ini aku harus bertemu dengan dosen pembimbingku. Aku mau konsultasi masalah judul skripsi, aku masih ragu. Sambil mendengarkan lagu “more than words” dari ekstreem, aku berjalan menuju kampus. Karena memang jarak rumah dan kampus tidak terlalu jauh, lagi pula sekalian olah raga. Setibanya di kampus, aku langsung menemui pak mus. Setelah itu aku menyempatkan diri ke perpustakaan. Tidak seperti biasanya, perpustakaan ramai. Hanya ada satu kursi yang tersisa. Aku langsung duduk. Tapi aku terkejut, ketika aku menemukan buku bersampul coklat yang ada diatas meja. Yang jelas buku itu bukan milik perpustakaan. Aku membukanya,...... “walaupun waktuku sedikit, aku akan membuat hidup ini lebih bermakna, aku tau Engkau maha adil ya Allah”
“bambang hermansyah...???” aku membaca nama di ujung kiri bawah sampul buku itu, yang kemungkinan adalah pemilik buku bersampul coklat yang aku temukan. Setelah meminta keterangan dari pihak perpustakaan, tidak ada pengunjung yang melaporkan kehilangan buku. Terpaksa buku itu aku bawa pulang dan aku bermaksud untuk mencari pemiliknya guna memulangkan buku ini. Walaupun agak lancang, Aku membaca selembar demi selembar buku itu, yang kalau di lihat isinya, seperti buku diary. Catatan harian atau apalah namanya.
Dari isi buku itu, aku tau kalau pemiliknya adalah orang yang memiliki kepribadian dan semangat yang tinggi. Sepertinya dia juga mengalami masalah yang cukup berat. Walaupun aku tidak tau apa itu. Buku ini terakhir kali ditulis tanggal dua februari, itu berarti sekitar dua hari yang lalu. Disini tertulis.... “sinar itu semangkin redup, mata itu semangkin sendu, bibir itu semangkin diam, tangan itu semangkin lemah, tapi hati ini tidak akan pernah lelah...... walaupun harapan itu sepertinya jauh, tapi aku yakin aku bisa menacapainya.. bantu hamba ya Allah..”
Aku semangkin penasaran, siapa sih sebenarnya pemilik buku ini. Esoknya, aku mencoba untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Secara tidak sengaja aku membaca nama bambang hermansyah di daftar nama mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari yayasan supersemar. Nama itu ternyata tercantum di fakultas sains, jurusan tehnik informatika. “berhasil...” aku spontan berteriak kegirangan. Dan tanpa aku sadari, aku menjadi pusat perhatian orang – orang di sekililingku yang juga melihat pengumuman karena suaraku yang terlalu keras. Sambil tersenyum menahan rasa malu, aku berlalu. Mungkin mereka mengira aku salah satu mahasiswi yang juga mendapatkan beasiswa, padahal karena aku telah menemukan bambang hermansyah yang selama ini aku cari.
Aku langsung menuju kampus bambang, tidak sulit untuk bertemu dengannya, karena kebetulah hari itu dia ada kelas. Aku bertanya kepada salah seorang mahasiswa yang juga masuk kelas yang sama dengan bambang.
“assalamualaikum..... maaf, ganggu... ehm.... bambang hermansyah ya..?” aku memulai pembicaraan, walaupun agak sedikit ragu.
“waalaikumussalam... iya.. da pa ya....???”
“sorry ya ganggu.. kenalin aku zizah... anak ekonomi”aku menjawab
“bambang....”
........................
Buku bersampul coklat itu tidak bersama ku lagi, buku itu kini bersama pemiliknya. Ya.... setelah pertemuanku dengan bambang hermansyah, aku merasa lega. Ternyata bayanganku tentang bambang semuanya salah, dia adalah orang supel, mudah bergaul, agamis dan kalau di perhatikan sepertinya tidak memiliki masalah yang berat. Sangat berbeda dengan apa yang tertulis di buku hariannya.
Aku terus mencari tau tentang sosok bambang, aku kembali merambah perpustakaan, siapa tau aku bisa bertemu dengan bambang disana. Dan feeling ku memang benar, aku melihat bambang sedang asik membaca beberapa buku tentang data base. Namun, disekelilingnya juga banyak buku tentang kesehatan. Dan...... tiba – tiba mataku tertuju pada buku tebal bertuliskan “bertahan melawan kanker”. Ups.... jangan – jangan...?? aku bertanya dalam hati, atau mungkin bambang menderita kanker.
“hei... sibuk ya.. serius amat... banyak tugas ya...??” tanyaku sok akrab
“eh... ehm.. biasa aja, gak sibuk – sibuk amat.. biasalah geh ngerjain skripsi neh.., zizah sendiri ngapain,,? Lagi banyak tugas ya, tumben ke perpus, soalnya aku gak pernah liat zizah di perpus sih.. hehe.. canda..”
“huh... emang deh ya, gini – gini aku rajin kok ke perpus, walaupun kalau ada tuas doank.. hhahkhakhakahk” aku menjawab.
......................
Kami semangkin akrab, seperti sudah menjadi sahabat selama bertahun – tahun, walaupun aku mengenal bambang baru beberapa bulan saja. Mungkin hal ini dikarenakan sosok bambang yang selama ini dikenal penyendiri dan melakukan semua hal sendirian. Apalagi aku juga dikenal sebagai orang yang supel dan mudah bergaul, mungkin dengan tidak terlalu sulit aku bisa masuk di kehidupan bambang dengan baik. Ternyata dugaanku memang benar mengenai penyakit itu, bambang divonis terkena kanker otak, dan dokter memperkirakan waktunya tinggal satu tahun lagi. Tapi aku salut... ditengah keadaan itu, dia tetap semangat menyelesaikan skripsinya. Dia tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya yang telah bersusah payah membiayai kuliahnya selama ini. Dan ternyata, dia tidak menceritakan tentang penyakitnya kepada kedua orang tuanya. Aku juga tidak menyangka, kalau aku adalah orang pertama yang mengetahui penyakit bambang. Entah karena alasan apa, dia bersedia menceritakannya kepadaku.
Sejak itu aku berusaha untuk menjadi sahabat yang baik untuk bambang, aku membantunya mengerjakan skripsinya, karena aku tau, dia tidak bisa memaksakan otaknya untuk terus berfikir, belum lagi penyakitnya yang semangkin parah. Aku banyak belajar dari seorang bambang. Semangat dan pantang menyerah.Aku yakin, percaya diri dan optimis akan mengalahkan semuanya. Serta doa yang terus di panjatkan kepada yang kuasa, “laa hawla wala quwwata illa billah.....”.
Entah kenapa, aku selalu ada ketika sahabatku itu membutuhkanku. Padahal aku juga memiliki segudang kesibukan, tapi aku selalu ada untuknya. Aku banyak belajar arti kehidupan, bahwa ditengah keterbatasan dan ketidaksempurnaan sebenarnya masih banyak hal yang bisa kita lakukan. Apalagi kita yang diciptakan dengan sempurna, banyak sekali hal yang bisa kita lakukan untuk membuat hidup ini lebih bermakna. Sebagai ciptaan Allah yang paling sempurna, hendaknya kita juga harus memaksimalkan kemampuan yang Allah berikan untuk kita. Semua kenikmatan yang Allah berikan, harus kita potensikan untuk kebaikan. Dan kebaikan yang terus menerus adalah lebih baik dari pada kebaikan sesaat. Semua yang kita miliki adalah titipannya, dan pada akhirnya akan kembali kepadaNya juga. Walaupun kita tidak tau kapan, kita hanya bisa mempersiapkan diri untuk kembali kepadaNya dalam keadaan yang taqwa.
Alhamdulillah.... akhirnya bambang bisa menyelesaikan tugas akhirnya tepat waktu. Yang lebih menggembirakan lagi dia lulus dengan predikat cum laude. Aku sangat bersyukur, akhirnya dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Tepat di hari wisudanya, dia tidak bisa menyembunyikan guratan kebahagiaan di wajahnya, siapapun tidak akan pernah menyangka kalau bambang telah divonis kanker otak stadium ahir. Hari itu, adalah hari terakhir aku melihatnya. Setelah acara selesai, aku pamit pulang. Keesokan harinya aku beraktifitas seperti biasa. Mengerjakan setumpuk tanggung jawab yang harus aku selesaikan. Aku sangat lega karena bisa membantu orang lain untuk mencapai harapannya. Hal ini adalah hal terindah yang pernah aku lakukan. Aku yang selama ini sibuk dengan urusan ku sendiri, tanpa memperdulikan orang – orang di sekelilingku yang membutuhkan bantuanku, telah menyadarkan aku bahwa ternyata aku tidak sebaik yang aku fikirkan. Itu artinya aku telah sombong terhadap diriku sendiri.
..........................
Tiga hari kemudian, aku mencoba untuk menelfon bambang, aku hanya ingin tau perkembangan kesehatannya. Tapi bukan bambang yang mengangkat telfonku, melainkan ibunya. Ibunya tidak berkata panjang lebar, beliau hanya ingin bertemu dengan ku karena ada hal yang penting yang ingin beliau sampaikan. aku menyetujuinya. Kamipun berjanji akan bertemu di rumah kontrakan bambang. Aku bingung, kenapa bambang tidak mengangkat telfonku. Aku takut terjadi sesuatu dengan sahabatku itu. Ah...aku harus optimis kalau semuanya akan baik – baik saja. Seperti yang selalu diucapkan oleh bambang.
Dengan langkah penuh tanya, aku bergegas pergi untuk bertemu dengan orang tua bambang. Jantungku beredebar ketika aku mendekati rumah itu, aku hanya melihat kesunyian. Perempuan yang mungkin usianya telah menginjak lima puluh tahun lebih itu menyambutku dengan pelukan dan air mata. Aku semangkin bingung. Tanpa berkata apa – apa beliau memberikan sebuah buku bersampul coklat yang tidak lain adalah buku harian bambang.
“almarhum mengamanatkan kepada ibu untuk memberikan buku ini kepada zizah... doakan dia ya nak..... “ ibunya mengawali kata – katanya.
Tanpa berkata apapun aku langsung memeluknya. Pasti perasaannya sekarang sedang hancur, karena kehilangan anak yang sangat ia sayangi dan ia cintai. Airmataku tak terbendung lagi, apa yang aku khawatirkan benar – benar jadi kenyataan.
....................
Aku pulang...... aku langsung membuka buku bersampul coklat itu. Aku membacanya.
“sahabatku...sukron engkau telah mengisi hari – hari terakhirku dengan begitu indah dan berwarna..... jujur.. aku tidak pernah menyangka akan mendapatkan seorang sahabat sepertimu. Ini benar – benar anugerah yang diberikan Allah kepadaku.. ternyata disaat – saat terakhir, Allah masih memberikan aku kebahagiaan. Allah memang maha adil.....
Jangan menangis... waktu zizah membaca tulisan ini aku sudah pergi. Namun ini bukanlah akhir sahabatku.. ini adalah sebuah awal... percayalah...
Terimakasih untuk semuanya..... kita akan meraih kebahagiaan dalam kehidupan ini jika kita menghargai sekecil apapun kenikmatan yang kita dapatkan dan mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa yang terjadi. Kita harus yakin, jika kita mengambil keputusan secara benar dan rasional, kita tidak akan pernah menghadapi kegagalan.....
Aku tidak tau... apa yang aku rasakan sekarang. Kebahagiaan atau kesedihan. Yang pasti, dibalik ini semua Allah pasti memiliki sesuatu yang indah untuk kami. Dan untuk semua orang yang selalu bersabar dan bertawakal.... karena semua akan kembali kepada kemurahanNya.
Sabtu, 14 Maret 2009
buku bersampul coklat
Diposting oleh rohayati di 21.19 0 komentar
cerpen kampus
Menunggu dijemeput mimpi...
Dia masih disitu. Tempat itu. Tempat yang selalu menjadi kenangan, kenangan pahit sekaligus membahagiakan. Tapi pahit itu hanya aku yang merasakannya. Tidak dia, bukan untuk dia. Biarkanlah aku yang merasakan ini, rasa ini akan selalu menjadi beban yang mesti ku tanggung, asal kebahagiaan terus menyelimutinya, aku rela. Setiap tanggal tiga belas, tempat ini pasti berkesan untuknya. Telaga biru, ditambah suara kicauan burung, udara yang sejuk semerbak merasuk kedalam tubuh yang lemah lunglai. Suasana yang asri, yang menambah kedamaian dan ketenangan jiwa. Ya... tanggal tiga belas, tanggal yang begitu bersejarah. Untukku dan untuknya. Hari yang menuai kesedihan untukku dan kebahagiaan untuknya. Tanggal yang mengharuskan aku untuk berdusta sepanjang masa. Yang harus ku tanggung sendirian.
Kala itu, tahun 1998. waktu reformasi mulai bangkit dari keterpurukan. Ketika suara rakyat mulai di dengarkan. Aku dan fadli menjadi salah satu mahasiswa yang ikut memperjuangkan reformasi. Yang tidak ingin kalau reformasi hanya sekedar mimpi. Harapan akan perubahan, dan kebangkitan dari krisis ekonomi. Aku, fadli dan teman – teman seperjuangan terus berjuang untuk perubahan itu. Tapi sayang, peristiwa mengerikan itu harus mewarnai perjuangan kami, saat kerusuhan semangkin parah, penjarahan dimana – mana, saat perjuangan akan perubahan berubah menjadi seonggok emosi yang berujung pada tindakan anarkis. Aku dan fadli tidak bisa menghidari semua itu. Fadli menjadi salah satu korban. Aku gagal melindungi sohib ku ini. Fadli tewas dalam peristiwa unjuk rasa itu, duch.... fadli apa yang harus aku katakan padanya.
Kini sudah sepuluh tahun peristiwa itu usai. Ketika reformasi sudah di gulirkan, namun aku belum mendapatkan kebebasan itu. Aku belum menemukan senyum – senyum gembira anak bangsa. Aku masih banyak menemukan wajah masam karena himpitan ekonomi, karena rumah yang sudah ditempati selama beberapa tahun mengalami penggusuran. Memang sudah banyak rakyat yang berani mengeluarkan suara dan pendapat melalui demonstrasi, tapi masih ku temukan diskriminasi dan penyelesaian masalah yang tidak kunjung selesai. Ah.... tapi sekarang bukan itu yang mengganjal hatiku, biarlah reformasi bergulir terus, biarlah masalah politik, ekonomi atau apalah namanya diselesaikan oleh orang yang berwenang di bidangnya. Aku gundah.
.........................
”mustafa... ayo cepetan, kita dah mau deadline nech…” fadli memanggilku.
”iya… bentar – bentar..” aku menyahut.
Aku adalah mahasiswa Universitas Indonesia jurusan tehnik sipil, sedangkan fadli merupakan salah satu mahasiswa dari FISIPOL. Semangatnya untuk melakukan perubahan sangat besar, melebihi aku. Aku salut sama fadli. Kami pun pergi. Aku dan temen – temen seperjuangan berkumpul di bundaran HI, yang merupakan ikon demonstran untuk menyuarakan aspirasinya. Setiba di lokasi, suasana sudah berubah ricuh, penjarahan di mana – mana. Toko – toko besar apalagi kepunyaan etnis tionghoa sudah banyak yang hancur, di bakar, diambil barang – barang yang berharga. Hhemm... aku menghela nafas panjang. Susana sudah benar – benar sudah tidak terkendali lagi, polisi dengan seragam dan tamengnya tidak sanggup lagi untuk membendung pengunjuk rasa maupun para demonstran yang telah menguasai gedung MPR dan DPR yang seharusnya menjadi tempat harapan kebebasan bagi masyarakat. Tanpa ku sadari sekelilingku telah penuh dengan kekacauan, aku dan fadli terjebak di situasi yang sangat sulit. Tiba – tiba aku merasa benturan keras di kepalaku, semuanya menjadi gelap, kepalaku pusing, aku tidak sadarkan diri.
......................
Aku terbaring di rumah sakit. Hal pertama yang aku ingat adalah fadli, dimana fadli ?, aku bertanya dalam hati.
”suster, siapa yang membawa saya kesini?” aku bertanya pada salah seorang suster yang sedang merawatku.
”bapak di bawa oleh salah seorang teman bapak...”
”teman..., siapa ?”
”namanya fadli pak.., ya sudah.. bapak harus istirahat karena luka di kepala bapak belum sepenuhnya sembuh”
Suster itu berlalu dariku.
”alhamdulillah....” aku bersyukur karena fadli baik – baik saja. Aku kembali merebahkan diri, karena kepalaku masih pusing dan sakit sekali akibat benturan benda tumpul akibat peristiwa semalam. Tiga hari aku dirawat di rumah sakit. Yang aku sesalkan kenapa fadli tidak pernah menjengukku di rumah sakit. Apa dia terlalu sibuk sehingga tidak memiliki waktu lagi sekedar menjenguk sahabatnya, atau...... ah... jangan.... aku tidak boleh berfikiran negatif, aku harus optimis kalau semuanya akan baik – baik saja. Aku pulang ke rumah kontrakan tipe 36 yang aku, fadli, irfan dan yosep kontrak sejak kami masuk kuliah. Rumah ini memang penuh dengan kenangan. Tidak jarang kami menghabiskan waktu di rumah ini dengan canda, tawa bahkan tangis yang tidak dapat di bendung lagi. Ehm... anak laki – laki nangis..., mungkin itu statement yang sering terdengar supaya anak laki – laki harus bisa lebih tegar. Tapi bagi kami, menangis bukanlah hal yang aneh lagi, jika ada salah satu diantara kami yang memiliki masalah maka tidak segan – segan untuk bercerita kepada yang lain, dan tidak jarang yang diiringi dengan tangisan. Memang kedengannya agak aneh.
”assalamualaikum...” aku mengawali.
”waalaikumussalam.....’ suara irfan membalas salam ku.
”Álhamdulillah.. udah baikan ?, maaf aku gak bisa jenguk sibuk banget, tapi udah aku doain kok supaya kamu cepetan sembuh..., maklum lah perjuangan kita masih panjang mustafa.....” irfan menambahkan.
”makasih fan, ngomong – ngomong fadli dimana?”
“kamu masuk aja dulu, ntar aku ceritain, kamu kan masih lemes baru pulang dari rumah sakit.. yuk....”
Dari penjelasa mustafa, aku mendapatkan keterangan bahwa mereka juga tidak tau keberadaan fadli dimana, fadli menghilang setelah mengantarkan aku ke rumah sakit. Banyak yang menduga bahwa fadli menjadi salah satu korban dalam kerusuhan kemarin. Tapi kabar itu masih kabur. Belum pasti. Setiap malam aku berdoa untuk keselamatan fadli, sahabat karibku. Aku tidak sanggup membayangkan reaksi dari orang tua fadli terlebih lagi ibunya kalau berita ini sampai ketelinga mereka. Karena aku adalah sahabat fadli yang sangat dipercaya untuk saling menjaga dan berbagi di perantauan jakarta karena kami sama – sama berasal dari desa yang sama di jawa timur. Aku mengenal fadli semenjak kami sekolah SD sampai mengenyam pendidikan kampus yang ternyata bisa membentuk idealisme. Dan pada akhirnya aku dan fadli aktif dalam berbagai organisasi kampus dan luar kampus. Aku masih bingung apa yang harus aku lakukan untuk menutupi hal ini, aku tidak ingin membuat orang tua fadli cemas akan hal ini.
.....................
Kicauan burung memecah lamunanku, sudah hampir tiga jam aku duduk disini, yang menemaniku hanya sepi dan kenangan yang menghantui. Detik demi detik, menit ke menit, jam.. hari... minggu bahkan tahun telah aku lalui sekian lama. Jaman sudah berubah, walaupun kini aku sudah mendapatkan pekerjaan yang sesuai, ya.. paling tidak sudah menghidupiku bertahun – tahun, ada hal yang masih mengganjal dihatiku. Dimana sahabatku, sahabat yang selalu menemaniku, fadli. Aku merendung kesedihan setiap kali melihat bik fatimah, ibunya fadli. Untuk menutupi hal yang menimpa fadli, aku terpaksa berbohong bahwa fadli mendapatkan beasiswa ke luar negeri dan tidak sempat untuk menulis surat, dan setiap bulan fadli akan mengirimkan uang kepada ibunya, terlebih lagi ketika ayah fadli meninggal dunia delapan bulan yang lalu, bik fatimah seperti kehilangan semangat hidupnya. Tapi apalah dayaku, aku tidak sanggup untuk berterus terang, karena kematian fadli memang masih misterius adanya. Untung saja, sekarang bik fatimah ikut dengan ku, sedikit terhibur oleh hadirnya buah hatiku, si cantik reina. Tidak terasa sudah sepuluh tahun peristiwa itu berlalu, dan fadli memang tidak pernah memberikan kabar apapun padaku atau pada ibunya, bik fatimah.
”mustafa.. bibik baru saja bertemu dengan fadli,,, dia ada dirumah sekarang, ayo cepet...” bik fatimah tiba – tiba membuyarkan lamunan akan kenanganku bersama fadli.
”apa.. fadli kembali,..” aku langsung berlari menuju ke rumah untuk menemui fadli.
Kupeluk sahabatku itu erat – erat, rasanya seperti mimpi.............., aku berharap ini semua kenyataan. Tidak hanya mampir di khayalan ku saja. Tiba – tiba aku dikejutkan oleh suara – suara berisik. Seperti suara fadli.....
”pagi mustafa.... bangun jangan tidur terus, sakit bukannya tambah kurus, eh.. jadi tambah gemuk lagi.. Hhakhakhakhak, tapi gak papa dech..” suara fadli membangunkanku.
”fadli.. kamu gak papa kan..?” aku mengawali pembicaraan
”justru kamu yang udah lebih dari dua hari dalam keadaan koma,,, udah baikan..?, aku bawa kabar bagus nech.. Soeharto dah mundur...”
Ku peluk sahabatku itu erat sekali, dan kali ini bukan mimpi........
Terimakasih ya Allah.......
By : rohayati
Diposting oleh rohayati di 21.17 0 komentar
Label: kampus
